Minggu, 20 November 2016

Kalau Bisa Sukses Muda Ngapain Nunggu Tua?




Saat Berbagi di PDK FKM UNAIR, Surabaya

“Syarat sukses itu bukan tua. Makanya, jika kita bisa sukses sejak muda ngapain nunggu tua?”

Kawan, coba kita buka mata. Buka lebar-lebar ya. Lalu lihat di sekeliling kita;
Adakah di antara mereka yang masih muda, masih seusia kita tapi sudah sukses melebihi kita?
Adakah di antara mereka, yang masih muda tapi sudah menghasilkan banyak karya?
Adakah di antara mereka, yang masih muda tapi mereka sudah banyak manfaat untuk orang lain?
Jika jawabannya ada, tak inginkah kalian salah satu di antara mereka?
Kawan, kita dan mereka itu sama; sama-sama makhluk Tuhan. Dia makan nasi, kita makan nasi. Dia perlu tidur, kita juga sama. Dia punya waktu 24 jam sehari, kita juga punya segitu kok. Nah, jika mereka bisa, tentu kitapun berpotensi bisa. Iya gak?
Ah, gak ada yang mustahil bagi Allah. Selagi kita mau berusaha, insyaAllah ada jalan. Sebab Allah tidak akan memberi balasan terbaik bagi siapa saja yang serius berusaha dan memohon pada-Nya. Maka tak perlu kita galau. Jika mereka bisa, kitapun bisa!
Tau gak, dulu  saya  heran banget pas denger cerita bahwa Imam Syafi’i itu hafal al-Qur’an 30 Juz di usia 7 tahun. Mana mungkin, pikirku. Ah, itu sangat mustahil. Mana bisa, sebanyak itu bisa dihafal oleh anak kecil. Yang tua saja kelimpungan buat ngafal. Apalagi anak kecil.
Tapi, adakah yang mustahil bagi Allah? Tidak!
Sekarang kita bisa saksikan sendiri kok, Musa, yang kita sebut sekilas di awal-awal; anak kecil usia 6 tahun yang sering nampil di televisi. Ia hafal al-Qur’an 30 juz. Dan ini benar-benar nyata. Bahkan ia mewakili Indonesia dalam lomba tahfidz tingkat internasional. Kalo gak percaya atau penasaran, cek aja di internet. Tentu, ini bukti bagi kita. Bahwa jika Allah berkenan, tidak ada yang mustahil. Sekarang saya makin percaya bahwa Imam Syafi’i bisa hafal al-Qur’an di usia 7 tahun. Saya  berharap lahirlah syafi’i syafi’i berikutnya, bisa saja itu adik kita, keponakan, tetangga atau anak-anak kita. Aamiiin.
Saya  mau cerita dulu sebentar. Dulu  saya  pernah ikut seminarnya seorang pebisnis yang memiliki beberapa bidang bisnis, dan kerennya omset bisnisnya mencapai ratusan juta. Dia menjadi CEO dari beberapa perusahaan yang ia dirikan. Cuman bukan itu sih yang membuat  saya  ngebet ikut seminarnya. Tapi yang membuat  saya  tertarik banget adalah usianya, kau tau, usia beliau baru 19 tahun! Dialah Hamzah Izzulhaq.
Sekarang kita tinggalkan Hamzah. Mari beralih ke yang lain. Di Surabaya, saya mengenal  sesorang yang sangat produktif berkarya menulis buku. Dalam usia 24 tahun ia menghasilkan 24 buku. Dan sekarang, di usianya yang ke-27, beliau sudah menulis lebih dari 60 judul buku. Hingga di toko buku besar, buku karya-karya beliau mendapat tempat khusus dan di antara buku-buku tersebut ada sebuah tulisan “BUKU-BUKU KARANGAN AHMAD RIFAI RIFAN”. Ya, beliau adalah Mas Ahmad Rifai Rifan. Masih muda tapi sudah menebar banyak manfaat melalui buku-buku yang ia tulis. Salah satu bukti kebermanfaatan karyanya ialah saya. Saya adalah ‘korban’ dari buku-buku beliau.
Kawan, kabar baiknya kenyataan seperti Musa yang masih kecil sudah hafal Qur’an mulai banyak. Pemuda seperti Hamzah yang usianya ‘seumur jagung’ tapi sudah punya bisnis dan omsetnya besar juga sudah mulai ramai. Pun, pemuda yang seperti Ahmad Rifai Rifan juga semakin bermunculan. Masih sekolah atau kuliah sudah mulai punya karya berupa buku. Tentu semua ini kabar baik bagi negeri ini.
So, bagi kita, apakah tidak ingin jadi bagian dari mereka? Bagian dari anak muda yang tak biasa. Anak muda yang berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. Jika ingin, ayo dong sama-sama kita berusaha memaksimalkan masa muda kita. Dengan cara apa?
salah satunya cerdas menggunakan waktu. Orang-orang penting selalu memanfaatkan waktunya untuk hal-hal penting. Hanya orang berhargalah yang menghargai waktunya. Dan itu yang membuat mereka sukses. Jika kita bisa sukses mulai sekarang, ngapain nunggu nanti. Kalo kita sanggup sukses muda buat apa nunggu tua? Toh, syarat sukses itu bukan tua.
Terakhir, yuk kita laksanain yang paling penting buat kita. Apa yang paling penting? Apapun yang membuat kita cepat menuju impian. Kalo ingin jadi penulis, maka training kepenulisan yang diutamakan. Kalo mau jadi pemain sepak bola, maka latihan badminton gak terlalu penting. begitu juga sebaliknya. Kalau mau jadi pebisnis muda, maka nongkrong yang gak jelas bukan suatu yang menenangkan hati. Bagi yang ingin prestasi di sekolahnya memuncak, melalui sedetik waktu tanpa belajar amat membosankan. Begitu seterusnya. Intinya, ingat-ingat impian kita apa, lalu laksanain sesuatu yang membuat impian itu lekas tercapai. Semoga gak perlu nunggu tua, apa pun impian kita bisa tercapai selagi muda, termasuk NIKAH MUDA. #Asyeek :) 

*Diambil dari buku "Saatnya Kemilau Bukan Galau"  hal 5-8, dengan sedikit penyesuaian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar