Selasa, 16 Agustus 2016

Waktu Sama, Prestasi Beda



 “Demi Allah, saya menyesali waktu yang terlewat tanpa kesibukan dengan ilmu…”
(Syaikh Fakhruddin)

 Antara Presiden, Pahlawan, Ustadz, Artis, Cendekiawan ataupun kita, waktu yang dipunya sama; 24 jam sehari semalam. Tapi mengapa hasilnya beda-beda. Ada yang waktunya bisa memberi manfaat untuk orang banyak, ada yang hanya untuk keluarga, hanya untuk teman-temannya, hingga ada yang hanya mampu memberi manfaat dirinya sendiri. Bahkan ironisnya, ada yang gak mampu memberi manfaat walau untuk dirinya sendiri. Yang membahayakan, sudah gak bermanfaat malah membawa kerugian. Padahal semua memiliki waktu 24 jam. Begitulah faktanya, “Waktu sama, prestasi beda”, sebagaimana tulis mas Rifai dalam bukunya, Time.

Nah, salah satu yang mempengaruhi adalah manajemen atau pengelolaan agenda yang kita terapkan. Meski waktu 24 jam tapi jika untuk tidur ya jelas hasilnya bisa ditebak. Begitupun jika 24 jam habis dibuat main dan aktifitas yang gak jelas manfaatnya, maka gak akan menghasilkan apa-apa. 

Lalu bagaimana agar kita bisa mengelola waktu 24 jam tersebut agar optimal?
Agar semua dipastikan menjadi waktu yang produktif?
Agar menghasilkan banyak manfaat?

Sabar, itulah yang akan kita bahas kali ini. 

Menurut Ibnul Jauzi, hendaklah mendahulukan yang lebih utama dalam ucapan maupun pekerjaan. Sedang menurut pandangan Abdullah bin Abbas bahwa ia berkata; “ilmu itu amat banyak dan hatimu tidak akan mampu menguasai seluruhnya”. 

Nah dari dua pendapat ini bisa kita Tarik kesimpulan bahwa kita perlu menentukan mana yang diprioritaskan dan mana yang bisa ditangguhkan atau bahkan ditinggalkan. Itulah yang dinamakan skala prioritas. Tanpa pake acuan skla prioritas, kita akan kebingungan mana yang musti dikerjain dahulu. 

Terkait skala prioritas, dibahas di buku ini juga.

***


NB : Ini bocoran salah satu bagian dari naskah buku "Agar Masa Mudamu GAK GITU-GITU AJA", karya Zailani BQ - Sedang Proses menuju terbit. Mohon doanya ya, moga lancar dan bisa segera kawan-kawan nikmati :)