Selasa, 23 Februari 2016

Menulis Itu Menggerakkanmu





Menurut Sayyid Quthb (1906-1966), Penulis tafsir Fi Zilalil Qur’an, “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Tapi, satu tulisan mampu menembus ribuan dan bahkan jutaan kepala”. 

Tentu, ini kiasan yang tidak main-main terkait dampak sebuah tulisan, sebab beliau sendiri sudah membuktikannya. Di sini, istilah menembus ijinkan saya maknai dengan menggerakkan. Namun saya tidak fokus kepada seberapa banyak orang yang tergerakkan dari tulisan yang kita tulis. Melainkan saya hanya ingin sedikit mengulas tentang bahwa tulisan itu menggerakkan si penulis itu sendiri. 

Apa saja yang tergerakkan? Sedikitnya ada tiga; tangan, otak dan naluri. 


Pertama, tangan. Ini sudah pasti. Namanya nulis kan pake tangan. 

Kedua, otak. nah ini yang agak tidak pasti. Ada orang yang nulis gak pake otak alias tanpa mikir. Orang model begini tentu tulisannya akan ngawur sesuai keinginan nafsunya. Soal apa dampak dari tulisannya ia acuh. Mau ada manfaatnya atau tidak ia tak peduli. Saya yakin, yang sekarang baca tulisan ini bukan tipe yang begini. Tapi kebanyakan nulis itu pake otak. ia mikir keras; mau nulis apa ya? Tulisannya bermanfaat apa tidak? Sumber penguatnya darimana? Maka orang seperti ini adalah orang yang bertanggungjawab. Ia akan menuliskan tulisan yang bermanfaat. Mungkin tidak selalu berat, tapi yang lebih penting bermanfaat. Bisajadi tidak harus formal, yang penting isinya jelas; ada pesan kebaikannya. Bahkan sepertinya tidak selalu baku, sesuaikan aja dengan target pembaca. Toh, komunikasi itu yang penting antara penyampai dan penerima pesan paham, beres. 

Apapun bentuknya, intinya penulis mesti mikir berat “tulisanku bermanfaat gak ya”. akhirnya otaknya muter tujuh keliling buat mikir tulisan apa yang bisa dishare kepada para pembaca. Pesan apa yang ingin disampaikan supaya pembaca mendapat tambahan ilmu, pemahaman, dan pengetahuan. Atau nasehat apa yang ingin diutarakan agar pembaca menjadi tercerahkan. Mikir, mikir, dan mikir. Begitu seterusnya. Maka tidak salah jika penulis itu wawasannya cenderung luas, sebab di samping banyak baca referensi, ia juga kreatif untuk mengamati apa yang sedang terjadi. 


Ketiga, naluri. Nah ini emang agak rumit bahasanya. Tapi intinya begini : apa yang kita tulis itu sebenarnya kita sendiri harus mau melakukan. Lebih baik lagi kita sudah melakukannya, walaupun ini tidak harus sih. Karena ada beberapa hal penulis hanya bisa membagi ilmu tanpa melakukan. Seperti ilmu tentang alam akhirat dan hal – hal ghaib lainnya. Tapi jika ilmu yang untuk kehidupan, sebaiknya sudah membuktikan atau pernah melakukannya. Misal, kita nulis tentang manajemen belajar. Bagaimana sih cara belajar yang efektif; waktunya singkat, belajarnya nikmat tapi hasilnya dahsyat. Nah, sebaiknya kita sudah mencobanya dan hasilnya sesuai dengan yang kita tulis itu. Atau kita nulisin pengalaman nyata orang lain. Ini boleh-boleh saja. Sehingga selain pembaca, kita juga bisa mengamalkannya. Apalah arti kita menyuruh orang lain jika kita sendiri lengah terhadapnya?

Saya punya pengalaman terkait naluri yang timbul karena saya pernah nulis. Saya nulis tentang gerakan on time dan akhirnya dimuat di majalah GELORA nya kawan-kawan di  UNAIR Surabaya. Inti tulisan saya itu menyoroti tentang kebiasaan orang –khususnya mahasiswa, termasuk saya – yang terbiasa datang telat atau tidak tepat waktu, baik dalam sebuah acara ataupun janjian untuk bertemu. Sebab ini dampaknya amat buruk bagi banyak orang. Nah, solusi yang saya tawarkan ialah agar kita membudayakan gerakan on time di manapun dan kapanpun termasuk kepada siapapun. 

Kita tanamkan betul budaya tepat waktu ada di hati kita semua. Harapannya tidak ada lagi alasan untuk tidak tepat waktu. Tulisan itu saya beri judul “Membumikan Gerakan Ontime”.  



Dua mingguan yang lalu saya punya janji untuk ketemu dengan teman-teman kampus Ma’had ‘Aly jam 07.30 pagi di masjid nasional al-Akbar Surabaya. apa yang terjadi? Saya telat karena ketiduran. MasyaAllah, selain merasa bersalah juga merasa malu terhadap apa yang saya tulis itu. Masak saya ngajak untuk on time tapi saya sendiri telat. Ini tamparan amat panas yang es batu tak sanggup mendinginkannya. Serius, saya malu besar. sepertinya muka saya lebih baik ditaruh dalam tas. 

Selanjutnya, hari ini saya ada janjian lagi dengan dua orang teman mahasiswa UINSA Surabaya di masjid kampus UINSA jam 09.30 WIB. Saya teringat lagi dengan apa yang pernah saya tulis itu; “Membumikan Gerakan On Time”. Maka kali ini saya WAJIB tidak telat. Ini harga mati!
Dengan naluri ini, akhirnya saya segera berusaha untuk tepat waktu. Alhamdulillaah, Allah ijinkan untuk tiba sesuai waktu yang ditentukan. 

Jadi, selain (mungkin) menggerakkan orang lain, apa yang kita tulis itu cenderung menggerakkan kita sendiri. Inilah poin penting yang mungkin jika orang lain yang menasehati amat berat kita jalani. Tapi karena kita sendiri yang punya inisiatif agar orang lain melakukannya, mak kitalah orang pertama yang berusaha mengamalkannya. Sehingga kita tidak tergolong orang yang Allah sebut dalam makna ayat ini : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Shaff: 2-3)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar