Senin, 07 Desember 2015

Tahu Dulu, Baru Memberi Tahu





“Fakidusy syai’ laa yu’ti; Yang tak punya, takkan bisa memberi”, demikian tulis Salim A. Fillah di buku Menyimak Kicau Merajut Makna. Ya, ungkapan ini memang pendek, tapi sungguh luas maknanya.

Jika kita bicara tanpa ilmu, berarti omong kosong. Ini sangat berpotensi sesat dan menyesatkan. Sebab bicara tanpa ilmu merupakan kebodohan.

Maka sebelum kita berbagi ilmu, pastikan kita memiliki ilmunya. Benar sekali, “balligh walaw aayah”, sampaikan walau satu ayat. Tapi perlu diingat, jika kita baru punya satu ilmu, maka jangan sampai menyampaikannya lebih dari itu.

Jika ilmu ibarat obat, maka kita sebagai dokternya. Untuk menyampaikan obat kepada pasien, tentu kita harus tau tentang kadar obat tersebut; kandungan, khasiat dan takaran dosisnya. Bukan bermaksud memperumit, tapi syarat membuat resep harus paham tentang obat tersebut. Saya kira semua orang sepakat terkait ini.

Bagaimana jadinya jika semua orang bebas membuat resep obat suatu penyakit? Tentu hal ini sangat berbahaya. Sebab bisa jadi dampak negatif yang ditimbulkan lebih besar. Benar, yang diberikan adalah obat, tapi apa jadinya jika pasien diberi obat hingga over dosis? Atau pasien sakit gigi diberi obat sakit malaria. Apa jadinya?

Maka bicaralah sesuai kemampuan kita saja. Kalo belum saggup bicara yang baik, yang benar, lebih baik diam. Tahu dulu, baru memberi tahu.


Salam, 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar