Senin, 07 Desember 2015

Dunia Selalu Merindukanmu



Belum, belum lepas dari ingatanku; tadi pagi menghadiri kajian (Jum'at, 5 April 2014). Bersama kawan seperjuangan, senasib dan sepenanggungan (Ciaa..). Mendiskusikan tema budi pekerti Rasulullah; akhlak. Dari kitab riyadhusshalihin itulah kami menggali ilmu sedikit demi sedikit, sedikit demi sedikit. 

Belum berlalu lama bahasan dimulai, dan langsung menusukke inti tema; akhlak Rasulullah SAW. Maka saya kembali teringat seorang ummul mukminin, Aisyah RA. Yang dia tak kuat menahan air mata ketika ditanya soal akhlak Rasulullah. “apakah yang terkesan tentang sosok sang Nabi?”. Dengan sambil menahan aliran air yang mengalir ke pipinya, dia menjawab “apakah ada akhlak Rasulullah yang tidak berkesan?”

Sungguh jawaban seperti itu akan mengunci si penanya, sebab terjawab bahwa semua akhlak Rasul berkesan. Maka tak berlaku kata tanya “yang mana?”. Jelaslah bahwa di setiap episode waktu, Rasul selalu mengakhlakinya sesuai al-Qur’an. 


Yang  halal menurut al’-Qur’an, maka dihalalkannya. Yang al-Qur’an haramkan maka ia haramkan. Sehingga di setiap gerak beliau tak ada yang mengecewakan, apalagi menyakiti.
Bisa kita lihat sahabat-shahabat Rasulullah, masing-masing dari mereka merasa bahwa dia lah yang terdekat dengan Rasul. Ini efek keseriusan beliau dalam menaruh perhatian orang lain, sehingga masing-masing dari mereka merasa dirinyalah yang paling diperhatikan Nabi, paling dekat dengannya.

Belum lagi jika kita ingat, bahwa Sang Nabi istiqomah menyuapi seorang Quraisy yang tuna netra. Si tuna netra tersebut selalu saja mengumpat Nabi. Kenapa? Karena ia tidak tau bahwa yang di depan dirinya adlah orang yang dia umpat. Namun uniknya Nabi tak merasa benci atas perlakuan itu. Sang qurais baru tau saat Nabi wafat, tidak ada lagi orang yang dulu menyuapi. Saat sahabat ada yang coba untuk menyuapi, si qurais merasa ada ada yang aneh. Tidak seperti biasanya. "Kemana orang yang biasa menyuapiku dengan penuh kasih saying?" kurang lebih demikian protesnya. Kemudian sahabat menjelaskan, bahwa yang biasa menyuapi adalah sang Nabi, orang yang selalu ia umpat. Luluhlah hatinya. Lalu air matanya menjadi saksi ikranya; dia mengucap dua kalimat syahadat.
AllahuAkbar.


Juga, bila kita liat sisi lain sang Rasul, akan kita jumpai bahwa ia tak pernah dendam dengan siapapun yang telah menyakiti fisik dan perasaannya. Dihina, beliau sabar. Di lempari batu, Beliau mendoakan kebaikan pada si pelempar; “ampuni mereka ya Allah, sebab mereka belum mengetahui.” 

Maka, sebagaimana yang kita bahas sebelumnya di tajuk Idola Yang Sesungguhnya, bahwa  Michael H. Hart dengan objektif menuliskan 100 Tokoh paling berpengaruh di dunia menempatkan nama Nabi Muhammad SAW berada di nomor pertama. 

Jelaslah bukti tentang firman Allah yang artinya,
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (al-Ahzab : 21)

Juga, sabda sang Nabi sendiri, "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak"

Di jalan yang berkilau, jika kita mau menelisik sejarah agung Sang Nabi, maka kita akan semakin menemukan mutiara. Akhlak yang senantiasa mencahayai semesta. Teladan yang benar-benar kemilau. Selamanya ia akan mampu menyejukkan dunia. Oleh karenanya dunia dan seisinya selalu merindukanmu, wahai Nabi.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi Muhammad


Sepenuh Cinta,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar