Jumat, 27 November 2015

Catatan Kajian Subuh Hari Ini Bersama Dr.Adian Husaini (Sejarawan & Cendekiawan Muslim) @Masjid al-Hikmah Surabaya


 Baiklah, sesuai janji saya di akun FB Ahmad Zailani, Saya akan menyampaikan beberapa poin yang sempet saya catet. maafkan jika tidak sama persis. tapi ambil saja substansinya, ya :). 
Ini dia:  *cikidong
 
*Tantangan umat Islam saat ini : 1) sekulerisme, 2) Natifisme, 3) kembali ke ajaran pra Islam (agama-agama lokal).

*Semua paham-paham ini tidak akan berkembang di Indonesia jika kita Islamnya kuat. Seperti penyakit, ia tidak akan berkembang jika kita kuat”. Seharusnya kita sudah tidak lagi capek-capek teriak ini penyakit, ini penyakit, tapi sudah berusaha membuat benteng diri yang kokoh. Imunitas diri yang kuat. Sehingga penyakit-penyakit tidak bisa menembus.

*Mereka nanya, "Dimana letak keadilan Tuhan jika dia menyiksa umat muslim karena dosa dan kejahatannya dan menyiksa nonmuslim hanya karena ketidakIslamannya, padahal dia baik dan tidak berlaku jahat?"
Hmmm... Letak baiknya di mana? Padahal iman itu mengakui ketuhanan yang esa dan mengimani Rasul yang diutus Tuhan. Jadi orang yang tidak mau mengakui apa yang seharusnya diakui apakah itu orang baik?

*Kita punya hak untuk beriman tapi tidak punya hak untuk kafir. Sebab kita wajib menjalankan apa yang diperintah oleh yang menciptakan kita.

*Mereka bilang : “Antara sunni dan syiah itu sama kok, tidak ada perbedaan yang prinsip”. La kalo tidak ada perbedaan yang prinsip kenapa kalian tidak masuk sunni saja. Kan sama saja toh. Kenapa juga kalian harus menggiring kami untuk masuk syiah? Padahal kan sama to? Ah, ini tidak mungkin. Tentu ada perbedaan prinsip.

*Kenapa kalian mau mensyiahkan sunni? Sunni kurang apa? Sunni salah apa? Kenapa kalian tidak mensyiahkan tiongkok saja? Itu lebih produktif lho.

*Tawaran damai antara sunni syiah, syaratnya dua; 1) Jangan ambisi mensyiahkan Indonesia, 2) Jangan menghina sahabat Nabi.

*Ada yang lebih penting dari sekedar melihat seorang tokoh; melihat bagaimana keadaan melahirkantokoh seperti dirinya. Misal, tokoh hebat Erdogan, kita harus juga melihat bagaimana seorang Erdogan ini dilahirkan.

*Kenapa nusantara yang awalnya 100% nonmuslim bisa berubah menjadi 90% muslim? Apakah Islam disebarkan oleh pedagang? Bukan. Masak dakwah dibilang sampingan; dakwah sambil dagang. Tidak. Tapi Islam benar-benar dibawa oleh para  Da’i yang tertata rapid an sistematis. Sehingga hasilnya bisa mengIslamkan pulau Jawa, Sunda, Madura, Minang dan lain-lain.

*Salah satu kecerdikan mereka (para da’i) tidak merubah bahasa local menjadi bahasa Arab. Tapi menyatukan Arab dan melayu. Muncullah arab pegon. Arab jawa, arab melayu dan lain-lain.

*Karena kecerdikan menyatukan bahasa Arab dan melayu, maka Ulama nusantara menulis kitab-kitabnya menggunakan arab melayu. Maka bahasa melayumenjadi bahasa ilmu. sekarang?

*Menteri Agama yang sekarang mempunyai draft adanya registrasi pendaftaran agama baru dengan 3 syarat: 1) memiliki kitab suci /yang dianggap suci dan ritual ibadah. 2) punya (kalo gak salah dengar) mahkamah / konstitusi nasional. 3) punya pengikut minimal sepuluh ribu (Cerybell bisa jadi agama nih, soalnya dia udah lebih sepuluh ribu pengikutnya. hehe). Tapi terkait draft ini sudah saya sarankan untuk dihapus / ditolak.

*Kata mereka: “Indonesia bukan Negara Islam….”, lalu apakah Indonesia Negara Hindu? Sehingga simbol-simbol hindu bisa bebas nongol di bandara, di tempat wisata dan tempat-tempat umum lainnya? 

*Hindu,dalam salah satu majalah yang mereka terbitkan (tadi dibacakan oleh Ust.Adian) mengatakan : “Hanya dengan hindu nusantara akan kembali jaya, sebagaimana jayanya kerajaan terdahulu. Maka negeri ini mutlak kembali kepada ajaran Hindu…  ”. PD sekali mereka ini, padahal Cuma 2% lhojumlah Hindu. Sedangkan umat Islam yang jumlahnya 90% PD gak bilang : “Hanya dengan Islam nusantara akan maju..”?

*Soal bahasa atau istilah; ini sangat mempengaruhi kita. Jika istilah dibelokkan maka kita akan mempunyai persepsi yang berbeda. Contoh : Ekstrim diganti dengan radikal. Padahal ini jauh berbeda. Islam itu radikal tapi sama sekali tidak ekstrim. Mana ajaran yang ekstrim? Ada?
Contoh lain, kata adil. Sekarang kalo kita denger pengadilan jadi serem. Padahal seharusnya kalo pengadilan itu kan memberi keadilan, jadi masukke pengadilan akan dapat keadilan. Harusnya bangga. Tapi kenapa kok kita jadi serem masuk ke pengadilan? Takut diadili.. padahal sekali lagi, diadili kan berarti ia akan mendapatkan keadilan. Kenapa mesti takut. (tambahan saya pribadi :Takutmu itu bukan karena takut keadilan. Tapi takut saat keadilan itu justru membuatmu terdakwa. Ya karena kamu dalam posisi salah. Coba dalam posisi benar. Kenapa musti takut?)

*“Kemerdekaan adalah hak segala bangsa” ini melatarbelakangi konferensi Asia Afrika. Salah satu hasil KAA adalah membubarkan zionis. Maka pada tahun 60an bung Karno membubarkan freemason dan lain-lain.

*Pada masa perjuangan, perbedaan antar tokoh muslim dan tokoh pejuang yang lainnya ada. Bahkan banyak. Missal soal beda pendapat Bung Karno dengan M.Natsir. tapi mereka tetep bersatu karena mau meninggalkan furu’iyah demi yang jauh lebih penting; kesatuan umat dan kemerdekaan bangsa. NU, Muhammadiyah, dan lain-lain juga bersatu memutuskan untuk penyeruan jihad. Sehingga ruh perjuangan semakin hidup. Sekutu di Surabaya diselesaikan oleh para pejuang dan ulama di sana. Sekutu ludes. Inilah efek semangat jihad.

*Ulama seperti HAMKA, sudah menjelaskan bahwa pancasila hanya dasar Negara.bukan pedoman Negara. Jadi pancasila hanya kulitnya saja. Dalamnya ya Islami; ada tauhid dan lain-lain. Jika pancasila dijadikan pedoman hidup, emang ada cara gosok gigi di pancasila? Sudahlah pancasila itu hanya dasar, bukan pedoman hidup. Untuk pedoman hidup, pengembangan karakter,akhlak, adab itu semua ada di Islam.

*Guru itu yang menentukan nasib bangsa ke depan. Guru inilah yang akan melahirkan generasi penerus bangsa. Maka pastikan guru paham tentang dasar-dasar agama / aqidah. Sehingga anak-anak sejak kecil aqidahnya tidak salah. Maka di sini guru benar-benar mujahid. Yang menjadi guru harus bangga dan betulkan niat karena Allah; apapun yang terjadi tetap mendidik. Jadi bukan karena kejar gaji. Pahala balasan / dari Allah jauh lebih berharga dari sekedar gaji.  Intansurullaha yansurkum, “jika kamu yang menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolongmu…” (Muhammad:7). Sebab kalo kejar gaji, gaji gak didapet maka ngajar akan berhenti. Padahal jika ilmu tidak disampaikan kita akan berdosa. Namun, bagi kita yang bukan guru, mari kita support mereka yang jadi guru. Mereka adalah pahlawan. Pastikan kita tidak menzalimi pejuangnya Allah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar