Jumat, 08 Mei 2015

Pemuda Harus Bergerak






Kamu pernah olahraga kan?
Apa yang kamu lakukan sebelum berolahraga?
Ya, peregangan atau pemanasan. Baik itu lari-lari kecil atau melenturkan anggota tubuh kita.

Fungsinya untuk apa sih? Betul, untuk mengkondisikan tubuh siap berolahraga dengan bergerak bebas, sebab otot-otot sudah kendur. Sehingga saat berolahraga tidak kaku dan tak mudah keseleo.
Sedikit pengalaman, dulu saat mau bertanting atau sekedar latihan biasa, saya tidak akan melupakan peregangan. Sebab tanpa peregangan dan pemanasan, hal ini amat berbahaya dalam dunia sepak bola. Dan sepertinya Ini berlaku juga untuk olahraga selain sepakbola, baik volly, basket, badminton, tenis dan sebagainya. Sebab gerak peregangan ini benar-benar sangat berpengaruh untuk kelancaran aktifitas selanjutnya.

Printer. Tau printer kan? Nah, menurut teman saya seorang teknisi servis printer, jika dalam seminggu sebuah printer tidak di pakai sama sekali maka akan mudah ngadat alias jalur aliran tintanya buntu. Kenapa? Tinta yang tidak bergerak akan mengental. Macetlah printer tersebut. Makas solusi agar tidak cepat buntu, menurutnya, ialah usahakan di buat ngeprint setiap hari meski satu atau dua lembar. Karena dengan begitu tinta sudah bergerak. Tidak diam.

Kenal Tukul kan?
Bukan tukul palu untuk memukul paku itu. Bukan. Tapi yang saya maksud ialah sang komedian Tukul Arwana. Ada apa dengan beliau?

Beliau mengkonsistenkan diri untuk terus menggerakkan hartanya. Artinya berusaha istiqomah untuk terus sedekah.  Uniknya, Pelawak satu ini punya analogi tersendiri terkait sedekah. Harta yang disimpan, menurutnya, seperti makanan yang kita masukkan dalam tubuh, jika lama tidak dikeluarkan akan berbahaya bagi tubuh kita sendiri. Oleh karena itu, dengan menyedekahkan perputaran harta akan terus lancar.

Begitulah, karena bergerak adalah suatu keharusan, karena banyak sekali manfaatnya.
Wahai kawanku, para pemuda sekalian. Mungkinkah kita akan diam? Padahal jelas, masa depan kita dan bangsa ada di tangan kita!

Mungkinkah kita akan berleha-leha menyiakan waktu yang kita punya? Padahal kita bukan Tuhan, yang tak tahu kapan ajal manusia akan datang?

Kita tentu ingat, kemerdekaan bangsa kita juga karena tak terlepas dari peran pemuda. Bagaimana jika dahulu para pemuda tak bergerak? Akankah kemerdekaan datang begitu saja?

Selagi fisik kita prima, ide-ide masih cemerlang, mari kita gunakan untuk menghebatkan diri dan Bangsa. Demikianlah salah satu bukti syukur kita atas segala kenikmatan yang Allah karuniakan.

Sekarang tak ada lagi waktu tuk berdiam. Kini sudah waktunya berpikir jernih, segera bertaubat, meluruskan niat, memperbaiki yang pernah salah dan menumbuh kembangkan prestasi. Yuk, bersama-sama kita komitmen pada diri sendiri untuk menggerakkan jiwa, diri dan harta kita, bahkan semua kemampuan yang kita miliki untuk kebaikan di jalan yang Allah ridhai. Agar masa muda kita benar-benar menjadi perantara hadirnya kebaikan di bumi ini. Mari!

Jangan sampai gerak langkah kita di dahului oleh musuh. Sedetik saja kita ditinggal, kita akan tergopoh-gopoh mengejarnya. Namun, jika memang kenyataan musuh telah jauh didepan, kita bukan pecundang, kita harus segera susul mereka.

Maka, sekali lagi, tak ada waktu untuk menunda untuk bergerak. Pemuda harus bergerak membawa perubahan kearah yang lebih baik. Ini amanah kita semua, kawan!  

Jika kita sebagai pemuda tidak bergerak, menurutmu siapa yang paling pantas bergerak? Orang yang sudah terlanjur tua? Ataukah anak-anak? Tidak. Keduanya tak kan mampu mengimbangi peran pemuda. Maka tetap pemudalah yang harus bergerak.

Sekarang kita renungkan ungkapan Imam Asy-syafi’i, Beliau seorang ulama ahli fikih yang sangat berjasa pada dunia Islam, “aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.”

Ya. Air yang tidak bergerak akan menjadi sarang penyakit dan sumber timbulnya kotoran.

“Bijih besi,” masih kata Asy-Syafi’i, “barulah ia dihargai setelah ia bergerak memisahkan diri dari tanah.”

Begitulah.
Oh ya, sebelum tulisan ini saya akhiri, ada satu lagi; Mari kita renungkan secara jujur makna pesan Allah Azza wa Jalla yang satu ini,

“Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Ali Imron: 137)

Lihatlah kawan, betapa Allah pun menyuruh kita untuk senantiasa bergerak, “…berjalanlah…”, “…berhatikanlah…”. Maka tak ada  lagi alasan yang membuat jiwa muda kita berdiam tanpa menghasilkan karya dan berkontribusi.

Sekaranglah saatnya kemilau, bukan galau.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar