Senin, 11 Mei 2015

Agar setan Tak Sanggup Menggoda Kita



Sebelum syaithan diusir dari syurga dan dikeluarkan dari barisan para malaikat, mereka meminta kepada Allah agar dikekalkan hidupnya untuk menggoda manusia hingga hari kiamat. Allah mengabulkannya. Sehingga ketika berbuat dosa, kita segera teringat bahwa kita sedang tergoda syaithan.

Benarkah syaithan yang menggoda? Bisa jadi iya, namun belum tentu.
Kok bisa?


Bukankah kita tau, di dalam hadis shahih menyatakan bahwa syaithan lari alias kabur mendengar adzan. 

 Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut agar tidak mendengar suara adzan tersebut. Apabila panggilan adzan telah usai, maka setan kembali…(H.R. Bukhari)



Itu artinya syaithan tak lagi bersama kita. Namun nyatanya, ketika adzan berkumandang apakah kita langsung menjadi taat? Apakah kemalasan kita tiba-tiba berubah menjadi rajin? Apakah kita segera bangkit dari tempat tidur kita?

Harusnya iya, karena syaithan tak lagi menggoda kita, namun ternyata nyatanya belum tentu. Berarti ada indikasi bahwa maksiat tidak selalu karena godaan syaithan. 

Kita juga sudah sangat paham, bahwa para penceramah, da’i dan muballigh ketika ramadhan tiba, mereka mengatakan bahwa syaithan sedang dibelenggu.   

Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit dibuka, sedangkan pintu-pintu jahannam ditutup dan setan-setan dibelenggu.(H.R. Bukhari)
 
Berarti di bulan ramadhan para syaithan sedang tidak keliaran, kan? 

Nah, anehnya kenapa di bulan tersebut masih ada orang yang bermaksiat? Masih ada orang yang mencintai tempat tidurnya daripada menunaikna panggilan Allah. Padahal sudah jelas-jelas syaithan dibelenggu. Seharusnya saat itu segala dosa tidak lagi dilakukan oleh manusia. Sebab syaithan sedang tidak bisa menggodanya. 

Berarti semakin menguatkan praduga, bahwa maksiat tidak selalu berlatarbelakang godaan syaithan.

Timbul Tanya dalam benak kita, “Kok bisa, ya. Lantas apa yang membuat manusia berbuat dosa?

Coba sejenak mengingat-ingat ulang, bukankah kita pernah mendengar kata hikmah ini; “Bisa karena terbiasa”?

Ya, mungkin saja selama ini kita sudah terbiasa melakukan dosa, sehingga ketika syaithan tidak ada sekalipun kita sudah amat mahir menjalankannya. Disinilah syaithan benar-benar sukses membimbing kita. 

Tapi, semoga saja kesuksesan syaithan itu tidak berkelanjutan dan kita berusaha memutusnya. Ada tiga cara penting yang bisa kita lakukan untuk memutus kesuksesan syaithan tersebut;

Pertama, merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi kita. Dimanapun tempatnya, kapanpun waktunya, Allah pasti tahu apa yang kita perbuat. Dengan demikian, jika hendak berbuat dosa, kita menjadi enggan untuk melanjutkannya. 

Kedua, dengan berlomba dalam kebaikan dan menyegerakannya. Sebisa mungkin kita berusaha menjadi orang yang paling baik amalnya dan orang yang pertama melakukan amal tersebut. 

Bisa jadi sama-sama sedekahnya, namun berbeda nilai dimata Allah karena kita berusaha melaksankan dengan semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita dan berusaha menjadi orang yang paling awal melakukan sebelum siapapun menunaikannya. 

Ketiga, berdoa kepada Allah SWT. Tidak ada kekuatan selain atas ijin-Nya, oleh karena itu kita jangan pernah berhenti memohon perlindungan pada Allah yang Maha kuat. Dengan do’a tebaik kita, semoga Allah kabulkan disaat dan tempat yang tepat.

Dari beberapa ikhtiar seperti inilah semoga syaithan tak lagi mampu menggoda kita.  Aamiin.

Wallaahu a’lam bisshowab.


Zailani BQ,
Mahasantri Ma'had Aly Masjid Nasional al-Akbar Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar